Jumat, 05 Desember 2014

Selamat Datang



Bismillahirrohmanirrohim

Gagasan ini berawal dari sebuah kegelisahan yang hadir memenuhi relung hati. Sebagai seorang yang menjalani proses pencarian jati diri dan keimanan melalui berpikir ada sebuah resah yang hadir, begitu saya diterima menjadi mahasiswa fakultas Psikologi sebuah universitas ternama.

Kegelisahan itu hadir ketika saya menemui berbagai sendi teori yang sangat buas dan liar dalam dunia psikologi. Mengejawantahkan apa itu jiwa, siapa itu manusia, apa itu naluri, apa itu tingkah laku, bagaimana terjadi tanpa bantuan wahyu ilahiah itu mengerikan. 

Hingga saat ini saya rasa, banyak yang tidak beres dari segi menemukan dan menyatukan tentang siapa itu manusia. Berbagai uji teori dilakukan hanya untuk mengetahui hal tersebut. Selain, itu kebebasan berpikir begitu menggila hingga sesuatu yang tak ilmiah dianggap tidak rasional. Menuhankan keilmiahan untuk hal-hal yang memang tak bisa diindra, tapi dapat dinalar. 

Manifesto kegelisahan saya yang lain adalah dengan kehausan mencari penguatan terhadap diri saya sendiri. Saya membaca banyak buku untuk menguatkan diri. Hingga akhirnya, saya bertemu dengan sebuah buku yang telah banyak menginspirasi banyak orang.

Buku Dilema Psikolog Muslim, karya Dr. Malik B. Badri menjawab sedikit keresahan saya atas kekacauan pola pikir barat. Pengantar buku ini cukup menampar saya. Bagaimana psikolog Muslim masuk dengan suka rela ke dalam lubang biawak. Lubang biawak diambil dari sebuah hadist yang mengatakan bahwa suatu hari nanti kaum muslimin akan mengikuti cara hidup orang kafir bahkan dengan senang hati menerjunkan diri ke dalam lubang biawak[1]. Buku ini mungkin dihadiahkan oleh Allah atas pencarian saya yang tak pernah berakhir. Atas rasa keimanan saya bahwa teori-teori barat itu meresahkan dan membahayakan jiwa.  

Sebagai bentuk rasa syukur ini, saya ingin berbagi refleksi-refleksi saya selama bersinggungan dan berinteraksi dengan ilmu psikologi barat. Bersinggungan dengan orang-orang yang mengembannya, orang-orang yang diobati dengannya, dan orang-orang yang tidak memakainya. Saya sengaja membuat blog khusus untuk membuatnya lebih fokus dan tidak tercampur dengan catatan harian saya yang lain.
Semoga dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua. Amiin.
Blognya dapat diakses disini…


[1] Sahih Muslim, hadist no. 2002 dalam singkatan an Al-Bani, terbitan Kementrian Agama Islam Kuwait